Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Simak Pengakuan Pelaku P3mbunuh4n Bocah di Surabaya, Mungkin Anda Langsung Merinding


 Anggota Satreskrim Polrestabes Surabaya menangkap Wahyu Buana Putra Morita (45), terduga pelaku penganiayaan yang berujung tewasnya korban berinisial JM (12) yang terjadi di indekos Jalan Kupang Krajan V/28 Surabaya, 25 Mei 2021.   

Wahyu dihadiahi timah panas di kaki kirinya karena mencoba kabur saat ditangkap di daerah Tangerang Selatan, Banten, pada Rabu (9/6). Dia menganiaya JM hingga bocah yang masih SD itu bersimbah darah dan mengalami koma. Sepekan kemudian, 2 Juni 2021, korban meninggal di RSU dr Soetomo. Dalam pengakuannya, dia melakukan penganiayaan itu pada siang hari. Korban yang saat itu sedang bermain game dengan anak pelaku di depan indekos, diminta masuk ke dalam kamar.

Alasan Wahyu mengajak masuk korban ke dalam kamar karena ingin mengambil handphone milik JM. Kemudian dia mengambil paving block di samping indekosnya. Awalnya dia memukulkan dua kali di bagian tengkuk korban. Namun korban masih sadarkan diri. "Saya pikir kalau dipukul leher belakang dua kali pingsan. Posisinya duduk di bawah di dalam kamar," ungkap dia saat di Mapolrestabes Surabaya, Jumat (11/6).

Melihat korban yang masih sadar, Wahyu kembali memukulkan paving itu hingga membuat JM bersimbah darah. 

"Dia masih sadar, enggak pingsan, terus saya merem-merem (pejamkan mata, red) memukul ketiga kali sampai (korban) enggak sadar," ucap dia sembari sesenggukan. Yang membuat miris, Wahyu melakukan hal itu di depan kedua anaknya. 

Setelah berhasil membuat korban tak sadar, dia mengambil ponsel JM dan kabur bersama kedua anaknya. "Saya kebingungan, melarikan diri ke Banyuurip, ke HR Muhammad sampai Dukuh Pakis terus ke Jakarta," ujar dia. Dalam upaya pelariannya itu, Wahyu menjual ponsel korban seharga Rp500 ribu untuk biaya perjalanannya menuju Jakarta. Namun, dia kebingungan saat kehabisan uang. "Bingung enggak bisa makan, kabur, kadang jalan ada yang membayar, naik mobil bak. Kami juga jalan pelan-pelan minta belas kasih dari warga," kata dia. 

Alasan pelaku melakukan hal itu karena sudah kebingungan mencari uang. Usahanya berdagang di Surabaya selalu gagal. "Ada dagang, tetapi gagal terus. Dagang nasi goreng, nasi kucing pernah," beber dia. Pelarian pelaku bersama kedua anaknya yang masih berusia 11 dan 14 tahun hingga sampai Jogjakarta kemudian lanjut ke Jakarta. Hingga akhirnya dia tertangkap tim Resmob Polrestabes Surabaya di Tangerang Selatan. 

"Kami temukan pelaku beserta kedua anaknya di depan halaman masjid. Saat ini posisi anaknya sudah bersama ibunya, nanti akan didampingi psikolog," kata Kasat Reskrim Polrestabes Surabaya AKBP Oki Ahadian.

Posting Komentar untuk "Simak Pengakuan Pelaku P3mbunuh4n Bocah di Surabaya, Mungkin Anda Langsung Merinding"