Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Mengharukan,Napi Tulis Surat Sebelum Gantung Diri di Lapas


Isi Surat yang ditulis oleh Sungkono ditujukan untuk ayahnya



Wartakediri.com -  Tak hanya sekali, Sungkono, 38, narapidana (napi) yang ditemukan tewas gantung diri di Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) Kelas IIA Kediri, beberapa kali mencoba bunuh diri. Jasadnya tergantung di bengkel kerja lapas. Diduga napi kasus pencabulan anak ini nekat mengakhiri hidupnya karena putus asa ditinggal mantan istrinya yang menikah lagi.

“Sebelumnya memang sempat heboh di lapas karena cekcok menolak cerai dengan istrinya,” ungkap Kepala Pengamanan Lapas Kelas IIA Kediri Sastra Irawan pada koran ini kemarin.

Selama ditahan di lapas, menurutnya, warga binaan ini tidak terlalu aktif bersosialiasi dengan napi lain. “Orangnya memang pendiam. Seringkali murung sendirian,” ujar Sastra.

Kemurungan Sungkono bermula setelah bercerai dengan istrinya tahun lalu. Ketika itu, sang istri menjenguk untuk kali terakhir. Pada pertemuan itulah sang istri yang tinggal di Lirboyo, Mojoroto mengajukan perceraian. Tetapi Sungkono menolak berpisah.

Semenjak itu, Sastra mengungkapkan, Sungkono seperti depresi. Galau tak menemukan solusinya, beberapa kali dia melakukan percobaan bunuh diri. “Sudah lima kali percobaan bunuh diri. Itu dari Maret tahun lalu,” terang Sastra. 

Upaya mencoba bunuh diri yang dilakukan Sungkono itu mulai dari gantung diri hingga potong urat nadi tangannya. Hanya saja waktu itu tindakan nekatnya tidak berhasil. Sebab saat hendak melakukannya, dia terpergok warga binaan yang lain. “Bahkan sipir lapas juga sempat menggagalkan ketika mengetahui tindakannya,” kata Sastra.

Untuk mencegah kelakuan Sungkono itu, Sastra menyatakan, pihaknya sudah memberikan akses dan wadah bagi Sungkono agar bisa mengalihkan pikirannya ke hal-hal yang positif. “Sudah saya beri ruang sendiri untuk Sungkono,” tutur Sastra. 

Ada ruangan yang biasa digunakan Sungkono untuk bekerja. Setiap hari, napi ini bekerja memahat kayu untuk barongan dan membuat cemeti. Untuk napi binaan memang ada kegiatan produktif  yang bisa dilakukan di lapas setiap hari. 

Hasil pahatan barongan yang dikerjakannya diberikan pada ayah Sungkono di Desa Gampeng, Kecamatan Gampengrejo, Kabupaten Kediri. Sebelum menikah, Sungkono tinggal bersama orang tuanya di desa itu. Sang ayah memiliki toko yang memasarkan alat-alat kesenian di rumahnya. 

Setiap seminggu sekali, ayah Sungkono datang ke lapas untuk menjenguk. Di sana sekaligus ia memberikan kayu yang dapat dipahat anaknya. “Nah, kayu itulah yang digunakan Sungkono sebagai pijakan kakinya saat melakukan gantung diri,” papar Sastra. 

Selain itu, ada kain untuk membuat cemeti juga digunakan Sungkono untuk menggantungkan badannya. Setelah dilakukan otopsi di Rumah Sakit (RS) Bhayangkara Kediri, jenazah Sungkono diserahkan ke rumah duka di rumah orang tuanya, Desa Gampeng, Kecamatan Gampengrejo. 

Seperti diberitakan sebelumnya, Sungkono ditemukan tewas di ruang bengkel lapas, Jalan Jaksa Agung Suprato, Kelurahan Mojoroto, Kota Kediri sekitar pukul 09.30, Jumat (19/3). Dia ditahan sejak 9 Agustus 2018 karena terbukti melanggar pasal 81 ayat 1 UU Nomor 35/2014 tentang Perlindungan Anak. Sungkono divonis hukuman 11 tahun penjara. Napi ini telah menjalani dua tahun kurungan.

Sebelum gantung diri, Sungkono meninggalkan wasiat yang ditulis di selembar kertas. Sepucuk surat itu berisi permintaan maaf yang ditujukan pada ayahnya. Adapun isi tulisannya adalah “Pak aku njaluk tulong karo sampean sak urunge sepurane pak, aku wis enek janji karo lilik, aku lek ditinggal lilik rabi aku mati pak, tak tepati janjiku pak. O iyo pak aku jaluk tulung jasadku kuburen neng sobo pak, aku ben tenang. Pak anakmu sungkono”.

“(Pak sebelumnya aku minta maaf. Aku sudah ada janji dengan Lilik. Kalau aku ditinggal Lilik menikah lagi, maka aku akan mati. Jadi, janji ini telah aku tepati. Aku minta dikuburkan di Sobo supaya tenang. Anakmu Sungkono)” 

Posting Komentar untuk "Mengharukan,Napi Tulis Surat Sebelum Gantung Diri di Lapas"